~ Lhaurenz JT.
_Ini sebuah analisis kecil-kecilan sebagai bentuk tanggapan
saya setelah membaca beberapa artikel, kutipan, pendapat di media juga
mendengar langsung dari beberapa kawan mahasiswa papua yang terkhusus mahasiswa
Puncak Jaya Se-Indonesia terkait penyaluran beasiswa yang bersumber dari otsus sesuai
kebijakan untuk SDM dibeberapa kota/kab. Di papua. Artikel ini saya tulis
bersifat umum tapi Studi Kasusnya “Pemikiran Yang Gonjang Ganjing Terkait Arus
Pemikiran Dalam Dinamika Organisasi Pemuda/Mahasiswa/Pelajar Puncak Jaya. Tulisan
ini bersifat Tanggapan dan Kritik Pemikiran Mahasiswa Puncak Jaya dan renungan
buat Pemda puncak jaya untuk membuat regulasi yang terkordinasi demi
pembangunan SDM Puncak Jaya._
*PROLOG*
*Kehidupan manusia tak
bisa lepas dari strukturalisme, sebab dengan strukturallah yang mampu menjadi
alat dalam gerak kehidupan baik zaman dulu hingga kini.*
Namun dari sudut pandang
Sosiologi, Antropologi dan Linguistik, strukturalisme adalah metodologi yang berunsur
budaya manusia harus dipahami dalam hal hubungan mereka dengan yang lebih
besar, sistem secara menyeluruh atau umum disebut struktur. Ia bekerja untuk
mengungkap struktur yang mendasari semua hal yang manusia lakukan, pikirkan,
rasakan, dan merasa. Strukturalisme adalah "keyakinan bahwa fenomena
kehidupan manusia yang tidak dimengerti kecuali melalui keterkaitan mereka.
Hubungan ini merupakan struktur, dan belakang variasi lokal dalam fenomena yang
muncul di permukaan ada hukum konstan dari budaya abstrak".
(www.wikipedia.org)
Dari kutipan wikipedia
tersebut mampu kami telaah bahwa struktur itu penting untuk kebutuhan manusia
dari unsur budaya, hal itu terjadi hingga kini hidup sekalipun dengan gerakan
teknologi. Struktur itulah yang menjadi pengatur yang efektif dan efisien maka
sejak dahulu para filsut atau para cendekiawan sudah mulai mengunakan struktur
itu dengan konteks yang formal dengan nama organisasi. Dengan organisasilah
struktur tergambarkan secara jelas kemana arah dan tujuan kehidupan baik jangka
pendek, menengah dan panjang, dilakukan dengan cara perencanaan, pengaturan,
tindakan, evaluasi dan lain sebagainya.
Organisasi tersebut
menjadi sesuatu yang formal dalam melakukan suatu tujuan maka tak heran bila filosofi
organisasi adalah *“Makhluk sosial berkumpul, melakukan sesuatu untuk mencapai
tujuan tertentu”.* Dengan maksud seperti ini maka hal kecil / besar selalu atur
secara organisasi sebab dengan organisasilah yang mampu mencapai tujuan. Dengan
maksud tersebut juga organisasi memiliki alat-alat penopang yang tidak bisa
lepas dalam pencapaian tujuan yaitu seperti; Pengetahuan (sebagai faktor utama
gerak organisasi), uang, atribut, simbol, nama dll.
Dari hal tersebut
organisasi menjadi penting untuk semua segi maka di tingkat tinggi dan tindah
rendah sekalipun seperti dalam rumah tangga selalu ada organisasi atau yang
lebih sederhana adalah struktur. Terutama di kalangan gerakan-gerakan dengan
cita-cita luhur.
Dalam studi, organisasi
menjadi salah satu alat pengembangan diri minat dan bakat, itu terlihat dari
gerakan pelajar dan mahasiswa yang selalu aktif dengan filosofi “Belajar,
Belajar dan Belajar”. Dengan itulah dimana-mana pemuda dan mahasiswa mengunakan
organisasi terutama kalangan studi.
Mahasiswa papua di era otonomi
khusus memiliki semangat baru dalam pengembangan diri yaitu dengan mendirikan
organisasi-organisasi baik formal dan non formal, luar dan dalam kampus,
organisasi mitra dan idenpenden. Salah satunya Mahasiswa Puncak Jaya, kini
sekitar 100 kurang lebih organisasi mahasiswa dengan bermacam-macam bentuk
seperti bentuk Komunitas, Himpunan, Ikatan, Korwil, Wadah, Keluarga, Pemuda,
Solidaritas, Federasi, Forum, Asrama dll terdirikan.
Organisasi dengan bentuk
yang berbeda itu namun tujuan hanya 1 secara filosofis dalam catatan Konsep
atau Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yaitu _“Mencerdaskan Kehidupan
Manusia melalui Perkumpulan”._ Tapi pada faktanya berbeda arah gerakan. (kawan pembaca bisa melihat fakta dengan
berusaha untuk berdiri dari sisi yang berbeda).
Saya melihat faktanya selama ini
Mahasiswa selalu bergantung pada
uang untuk menghidupkan organisasi yang didirikan
dengan bermacam-macam bentuk itu, maka akhir-akhir ini saya melihat dan membaca reaksi pemuda dan mahasiswa puncak
jaya se indonesia dinilai buruk tindakan pemda salurkan dana dengan kebijakan
baru yaitu kirim melalui nomor rekening masing-masing mahasiswa. penilaian itu
dengan mengatakan bahwa;“akan
hancur kalau tidak ada
penyaluran uang beasiswa melalui kantor pos/wessel (mengunakan cara sebelumnya) kepada mahasiswa
puncak jaya se-indonesia”. (sampe hari ini saya tidak mendapat analisis yang jelas
mengapa organisasi akan hancur bila beasiswa kirim melaui nomor rekening, jadi
kalau kawan kawan ada pemikiran yang baru bisa share. Sebagian sisi saya paham
namun sebagaian besar tidak. *Sebab saya melihat dari tindakan pemda puncak
jaya salurkan beasiswa melalui nomor rekening ini TIDAK SALAH (sudah efektif),
namun yang SALAH adalah Garis Kordinasi dan Garis Konfirmasi*. (_kedua point
itu menjadi satu topik diskusi kita selanjutnya_)
_Next...._
*Bila kita menelusuri
kembali lagi kebelakang dengan menghubungkan kebijakan baru pemda puncak jaya
sekarang, justru lebih efektif penyaluran beasiswa melalui nomor rekening dan
kebijakan ini memiliki beralasan jelas ketimbang opini mahasiswa yang
mengatakan, “Kebijakan Pemda Sekrang Itu Tidak Benar/Akan Hancur Organisasi”. Sebab
tujuan utama beasiswa adalah mempermudah mahasiswa dalam studi perkuliahan, dan
harapan diberikan beasiswa adalah mahasiswa harus selesai sarjana dan memiliki
gelar untuk pulang membangun daerahnya, itu pemikiran pemda mengapa beberapa
daerah di papua salurkan beasiswa dari dana otsus. Tapi bila kita periksa lebih
dalam lagi, misalnya dari sudut pandang yang berbeda, contoh: tarik ide dari
pikiran Pembangunan SDM maka berbeda pula dengan tujuan pemda itu sendiri. Na..
ini perlu di analisis lebih jauh lagi. (_ini menjadi satu topik diskusi lagi
nanti_)
*“Disini saya
tidak mengupas tentang pengaturan beasiswa sesuai aturan atau versi pemda atau pengertian
organisasi namun fokus pada Ketergantungan Mahasiswa Puncak Jaya pada Uang dalam
gerakan menghidupkan dan bertahan suatu Organisasi”.*
_Mari lanjut...._
Menurut saya tidak perlu
bahkan tidak penting mahasiswa kait-kaitkan uang dengan organisasi dalam menjalankannya sebab kita
tau bahwa;
#. Uang bukan
faktor utama menjalankan
organisasi melainkan faktor pelengkap. (kecerdasan yang menjadi faktor utama
dalam gerakan organisasi)
#. Uang bukan
primer dalam organisasi melainkan sekunder. (primer organisasi adalah
pengetahuan seseorang)
#. Uang bukan
alat tujuan melainkan alat bantu. (alat tujuan adalah kemampuan generasi yang meneruskan generasi
berkelanjutan)
Jadi, bila terjadi
mahasiswa menilai kebijakan pemda buruk dalam penyaluran beasiswa maka fokus
saja kritik dan desak terkait regulasi/kebijakan/penyaluran dana bukan dihubung-hubungkan
dengan “Akan Matinya Organisasi”. organisasi selalu bicara kualitas
manusia yang dikategorikan sebagai pembangunan SDM bukan
bicara kuantitas yang dikategorikan sebagai Jumlah mahasiswa, dan jumlah harta kekayaan.
sejak
dahulu sana, organisasi mahasiswa
puncak jaya tak
pernah menjadi
mandiri terutama manusia didalam organisasi itu karena selalu bergantung pada
barang konkret (uang, harta dan kekayaan lainnya) bukan
pengetahuan maka, hasil ouput
organisasi rata-rata menjadi hamba konkret yang tak
berkualitas atau kasarnya jadi organisasi abal-abalan di kalangan
pemuda dalam studi.
Hal ini saya melihat organisasi mahasiswa
puncak jaya juga kabupaten lain, pada
umumnya di seluruh papua.
Tentang harus ada uang
dalam organisasi itu wajar tapi uang tidak menjadi penentu dalam geraknya organisasi,
namun organisasi mitra pemerintah selalu dan pasti ada bantuan seperti
organisasi yang didirkan dengan atas nama kabupaten/provinsi. (tidak semua,
namun pasti saja ada yang begitu) terutama wadah-wadah mahasiswa yang bermitra
dengan pemerintah. apalagi era otsus beberapa pemda di papua sudah memiliki
regulasi khusus untuk meningkatakan SDM Papua sebagai tujuan salah satunya di kab.
puncak jaya maka bantuan pembangunan SDM itu diberikan dalam bentuk Beasiswa
juga ada istilah OP/OPerasional/Pemondokan/Asrama perwaktu.
*CEK FAKTA...*
Namun penerapan
regulasi/kebijakan pemda dalam meningktkan SDM papua itu bila kita melihat dari sudut
pandang yang berbeda justru menjadi atau terjadi
pemanjaan/keenakkan dalam organisasi terutama manusianya. Uang otsus disalurkan murni untuk pembangunan SDM tapi
penguna rata-rata tidak memanfaatkan semaksimal mungkin dalam studi justru uang
menjadi alat kehancuran mahasiswa/pemuda/pelajar bahkan kehancuran organisasi
serta perpecahan sesama mahasiswa dalam organisasi, yang LEBIH NYERI ADALAH
UANG menjadi PEMBUNUH MENTAL MAHASISWA/PEMUDA/PELAJAR... Bayangkan...????????
hal ini disebabkan
kesadaran intelektual masih jauh dari harapan.
Jadi, uang otsus salurkan
dengan nama beasiswa murni
untuk studi, isinya
selalu salah manfaatkan, disitulah kehancuran
organisasi mahasiswa seperti kami puncak jaya terlihat
sekarang, yang TIDAK MAMPU KELOLAH organisasi dan uang dengan
INTELEKTUALITASNYA. karena yang menjadi SEMANGAT Berorganisasi, Bermotivasi,
Jiwa Aktif, Jiwa Ikut,
Jiwa Kader, Jiwa Organisasi, Jiwa Pemimpin, Jiwa Solidaritas dalam Organisasi Mahasiswa Justru
Lahir Atas Dasar ASAL ADA UANG & MAKANAN
Bukan
ASAL ADA PENGETAHUAN. Ini berbahaya bagi kehidupan manusa secara mental terutama gerakan pemuda
yang bervisioner. (buat khusus kami generasi puncak jaya)
“Solidaritas
yang selama ini kita bangun di organisasi GAMPANG RUNTUH sebab dibangun dengan UANG bukan dengan AKAL.” ~Jlt
sesuatu
yang dibangun berdasarkan KUANTITAS akan gampang runtuh bahkan bisa mati
gerakannya
sedetik pula. Jangan
jauh-jauh dulu, misalnya
saja sekarang sudah ada tanda-tanda, mulai
ada yang ngutip kata "AKAN HANCUR". sesuatu
yang belum terjadi tapi mengunakan kalimat yang benar-benar berpotensi mengHANCURkan
ini berbahayanya bagi kita yang dikader dengan uang, harta
kekayaan dan kuantitas tertentu. Jadi, saya berharap kita
aktifkan diskusi tingkat intelektual agar mampu menyederhanakan masalah untuk
menyenderhanakan solusi.
saya setujuh harus ada uang dalam
berorganisasi tapi itu bukan faktor utama dalam eksistensi manusia dalam
berorganisasi. –Lhaurenz
*EPILOG*
Tulisan ini hanya untuk
refrensi tambahan kawan kawan intelektual puncak jaya, terutama organisasi
mahasiswa baik itu mitra pemerintah juga wadah idenpenden puncak jaya. Saya berharap
kita terus diskusikan persoalan yang bersifat kepentingan umum baik untuk
sekarang juga masa depan melalui diskusi, dialog, seminar, menulis dll. Sebab saya
melihat kami generasi sudah mulai ikut arus dalam pemikiran penguasa dengan
filosofi harus “UTUHkan dan TERTIBkan. Bila hal itu kami tidak mampu bedakan
dan posisikan pada tempatnya maka “sejarah intelektual sebagai obor dingin akan
kendalikan terus menerus.
*Saran Terkonfirmasi;*
~ Penerapan Kebijakan penyaluran beasiswa perlu
diperbaiki;
~ Garis Kordinasi dan
Garis Konfirmasi antara Pemda dan Mahasiswa Puncak Jaya Terutama Badan Pengurus
Perlu di lakukan secara jujur, adil dan benar;
~ Tanggungjawab besar
Badan Pengurus membangun kesadaran anggota perlu di aktifkan, sebab hampir 2
dasawarsa ini beku kata “TANGGUNGJAWAB MEMBANGUN KESADARAN”;
~ aktifkan diskusi
mahasiswa untuk lahirkan solusi-solusi terbaik;
~ BERHENTI melakukan AKTIF
KOLUSIF;
Negeri Utopia, 18 Juli
2020
Dabir: Jhon Lhau’renz
Tabunny


0 Komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !