![]() |
| Foto, Jhon L. Tabuni |
Oleh: Jhon Lhaurenz Tabuni
Di tengah arus perkembangan zaman yang melaju dengan pesat, sebuah ironi dan kemunduran justru tengah terjadi di depan mata kita. Terdapat sebuah paradoks sosial-ekonomi yang lahir dari rahim sistem pemerintahan yang bobrok (belum berjalan secara ideal).
Kelemahan sistem birokrasi ini nyatanya direspons dengan dua cara yang saling bertolak belakang oleh kita masyarakat yang hidup di atasnya. Di satu sisi, banyak warga pendatang yang jeli membaca kelemahan sistem pemerintahan bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang. Dengan etos kerja dan keterampilan yang mumpuni, mereka mengisi ruang-ruang ekonomi. Mereka berbisnis, menciptakan perputaran uang, dan membangun kemandirian finansial, baik di luar pemerintahan maupun dengan memanfaatkan celah-celah di dalam birokrasi itu sendiri.
Namun, di sisi lain, realitas yang memprihatinkan justru melanda sebagian besar kita, Orang Asli Papua (OAP). Terdapat sebuah "euforia" yang keliru ketika seorang OAP berhasil mengenakan seragam Aparatur Sipil Negara (ASN). Menjadi ASN kerap kali dianggap sebagai puncak pencapaian, sebuah zona nyaman yang diyakini mampu menjamin kelangsungan hidup diri dan keturunannya hingga hari esok. Padahal, faktanya tidak demikian!
Banyak yang terjebak dalam ilusi kenyamanan ini. Realitasnya, dengan gaji yang pas-pasan, kebanggaan mengenakan seragam tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan perut dan masa depan. Ujung-ujungnya, tidak sedikit yang mengeluh di belakang layar, frustrasi, dan parahnya, menghalalkan segala cara instan demi mendapatkan uang tambahan. Kondisi ini bukanlah sebuah adaptasi zaman, melainkan sebuah kemunduran gaya hidup dan mentalitas yang sangat serius bagi kita masyarakat lokal.
Dunia di luar sana sedang berlari membangun inovasi, namun gaya hidup dan cara pandang kita sebagian besar justru ditarik mundur jauh ke belakang.
Pertanyaan kritisnya adalah:
Jika mentalitas ketergantungan ini terus diwariskan, mau jadi apa generasi anak asli Papua di masa depan?
Jawabannya sudah bisa ditebak dan sangat mengerikan:
- Kita hanya akan berakhir menjadi penonton di tanahnya sendiri.
- Kita akan terus mengeluh, pelan-pelan tersingkir, terusir dari pusaran ekonomi, termarginalkan, dan jatuh dalam jurang kemiskinan yang terstruktur.
- Kita akan menjadi generasi yang bergantung, kehilangan daya saing, dan terkurung dalam pola pikir yang tidak berkembang.
Kondisi ini adalah alarm bahaya tingkat tinggi. Saya menulis ini karena melihat dan merasakan sendiri dan tulisan ini adalah sebuah gugatan kepada setiap pemangku kkepentingan! Kepada para pemimpin di semua level—mulai dari Kepala Desa, Kepala Distrik, para birokrat (Kasi, Kasubbag, Kabid, Kadis, Sekda), hingga level politisi seperti Bupati & Wakil, Gubernur & Wakil, beserta para Wakil Rakyat: Anda semua harus menyadari krisis ini.
Pemimpin tidak boleh hanya bangun citra diri dengan program simbolis, mencari-cari alasan, bicara dan aksi tidak sejajar, duduk diam, membisu, dan terbuai menikmati harta politik serta kepentingan golongan sesaat. Buka mata, rasakan denyut nadi masyarakat, lakukan evaluasi menyeluruh, dan segera bergerak! Programkan pemberdayaan ekonomi riil, bangun mentalitas wirausaha, dan bangkitkan daya saing OAP agar tidak hanya menggantungkan nasib pada kursi birokrasi.
Waktu terus berjalan. Pilihan bagi para pemimpin hanya dua: bangkit memberdayakan rakyatnya sekarang dari akar akarnya, atau bersiap dicatat oleh sejarah sebagai pemimpin yang membiarkan generasi Papua tersingkir di tanahnya sendiri.
Ilaga Tugwi, Senin, 23 Februari 2026


0 Komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !